REINTERPRETASI AYAT AL-QUR`AN TENTANG KEPEMIMPINAN LAKI-LAKI DENGAN PENDEKATAN HERMENEUTIKA FARID ESACK

Publikasi Unusia

REINTERPRETASI AYAT AL-QUR`AN TENTANG KEPEMIMPINAN LAKI-LAKI DENGAN PENDEKATAN HERMENEUTIKA FARID ESACK

Tampilkan catatan item lengkap

Judul: REINTERPRETASI AYAT AL-QUR`AN TENTANG KEPEMIMPINAN LAKI-LAKI DENGAN PENDEKATAN HERMENEUTIKA FARID ESACK
Penulis: SARA AYUSTI
Abstrak: SARA AYUSTI, NIM 2130301038. Judul skripsi: “Reinterpretasi Ayat-Ayat al-Qur`an tentang Kepemimpinan Laki-Laki dengan Pendekatan Hermeneutika Farid Esack”. Program Studi Ilmu al-Qur`an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar. Skripsi ini membahas ayat-ayat al-Qur`an yang kerap dijadikan dasar untuk mengukuhkan kepemimpinan laki-laki, khususnya Q.S. al-Baqarah [2]: 228 dan Q.S. an-Nisa [4]: 34. Dengan pendekatan hermeneutika pembebasan Farid Esack, kedua ayat tersebut ditafsirkan ulang secara utuh dan kontekstual untuk memahami makna darajah dan qawwām secara adil. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji ulang penafsiran yang cenderung patriarkal dan menawarkan pembacaan baru yang membebaskan, kontekstual, serta selaras dengan prinsip keadilan universal al-Qur`an. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika pembebasan Farid Esack dan disajikan dalam bentuk deskriptif-analitis serta menggunakan metode penafsiran maudhui’i. Sumber utama dalam penelitian ini adalah dua karya Farid Esack Qur’an, Liberation & Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against serta sumber sekundernya mencakup beberapa kitab-kitab tafsir dan penelitian lainnya yang terkait dengan topik penelitian peneliti. Hermeneutika Farid Esack dibangun di atas kesadaran keadilan dan pembebasan, menjadikan al-Qur`an bukan sekadar teks normatif, melainkan sumber ilahiah yang harus menjawab realitas ketimpangan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, darajah dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 228 mengarah pada beban hukum dan sosial, bukan kelebihan eksistensial; begitu pula qawwām pada Q.S. an-Nisā’ [4]: 34 dipahami sebagai amanah tanggung jawab finansial, spiritual, dan etis, bukan superioritas kodrati laki-laki. Keduanya berada dalam relasi domestik, bukan publik, sehingga tidak dapat dijadikan dasar pelarangan kepemimpinan perempuan di ruang sosial. Memaknai laki-laki sebagai penguasa tunggal dalam keluarga justru melanggengkan patriarki dan toxic masculinity yang merugikan kedua belah pihak. Hermeneutika pembebasan Esack menawarkan pendekatan tafsir yang kritis dan kontekstual, membuka ruang bagi suara-suara terpinggirkan, menjembatani prinsip Islam dengan keadilan gender, serta merespons dinamika sosial secara relevan dan etis.
URI:
https://drive.usercontent.google.com/download?id=1M-_XRntmkVfKX1GFegBMfiiq_nYA2n2d&export=view
http://repo.uinmybatusangkar.ac.id/xmlui/handle/123456789/32700
Tanggal: 2025-08-19


File dalam item ini

File Ukuran Format Lihat Deskripsi
1765168150725_UNGU.jpeg 15.49Kb image/jpeg Lihat / Buka Gambar "REINTERPRETASI AYAT AL-QUR`AN TENTANG KEPEMIMPINAN LAKI-LAKI DENGAN PENDEKATAN HERMENEUTIKA FARID ESACK"

Item ini muncul di Koleksi berikut

Tampilkan catatan item lengkap

Telusuri Repositori


Pencarian Lanjutan

Jelajahi

Akun Saya