Tampilkan catatan item lengkap
| Judul: | Studi Penafsiran Ayat-Ayat Iddah Perspektif Wahbah AZ-Zuhaili dalam Kitab Tafsir Al-Munir |
| Penulis: | MIWA ZAHROH |
| Abstrak: | Miwa Zahroh. NIM. 2030301027 (2020). Judul Skripsi: “StudiPenafsiran Ayat-Ayat „Iddah Perspektif Wahbah Az-Zuhaili Dalam KitabTafsir Al-Munir”. Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir FakultasUshuluddin Adab dan Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud YunusBatusangkar.Pokok permasalahan dalam skripsi ini adalah sebagai mufassir fiqhbagaimana penafsiran ayat-ayat tentang „iddah oleh Wahbah az-Zuhaili dalamkitab Al-Munir. Tujuan pembahasan ini untuk mengetahui penafsiran ayat-ayattentang „iddah dalam Al-Qur`an menurut Wahbah az-Zuhaili sebagai penulistafsir bercorak fiqh dan bagaimana dampak dan cara pencegahan dari pandangan„iddah menurut Wahbah az-Zuhaili.Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kepustakaan(library research). Metode analisis yang digunakan adalah metode tafsir tematikmelalui kata kunci , , . Sedangkan untuk menganalisa penafsiranayat-ayat „iddah oleh Wahbah az-Zuhaili digunakan metode tafsir maudhu‟iberbasis tokoh, melalui content analisis, dan pendekatan ilmu tafsir. Sumber dataprimer dalam penelitian ini, yaitu QS. Al-Baqarah [2]: 228, 231 dan 234, Qs. Al-Ahzab [33]: 49 dan Qs. At-Thalaq [65]: 1 dan 4, yang dikaji pada tafsir Al-Munir.Sumber data sekunder dalam penelitian ini berupa buku-buku, jurnal-jurnal, danartikel yang berkaitan dengan „iddah dan tafsir Wahbah al-Zuhaili.Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) Wabah Az-Zuhaili dalamkitabnya menjelaskan makna dari kata ( ) yang terdapat dalam Qs. Al-Baqarah [2]: 228 dan 234 secara pengertian berarti menunggu, sedangkan maknadari kata ( ) dan ( ) yang terdapat dalam Qs. Al-Ahzab [33]: 49 dan Qs. At-Talaq [65]: 4 secara tekstual berarti menghitung „„iddahnya dan secarakontekstual (pemaknaan dari ayat Qs. Al-Baqarah [2]: 231 dan 235) berarti akhir„iddahnya. Wahbah az-Zuhaili menyatakan bahwa „iddah adalah masa setelahperceraian yang ditetapkan syarak di mana perempuan wajib menunggu dan tidakboleh menikah lagi sampai masa itu selesai. (2). Wahbah Az-Zuhaili sebagaiulama kontemporer menjelaskan bahwa „iddah memiliki hikmah penting dalammenjaga hak-hak suami dan istri pasca perceraian. Misalnya, jika seorang priaingin menikahi wanita lain setelah perceraian, dia harus memastikan bahwa tidakada ikatan yang tersisa dari pernikahan sebelumnya. Sehubungan denganperkembangan dunia medis saat ini yang memungkinkan untuk menentukankehamilan dalam waktu yang relatif singkat dan dengan hasil yang cukupakurat, seperti USG dapat mendeteksi kehamilan lebih awal, namun masa „„iddahtetap memiliki peran penting dalam memberikan waktu tambahan untukmemastikan bahwa kehamilan sudah stabil dan dapat dideteksi dengan pastidengan ketentuan yang dijelaskan dalam Qs. Al-Baqarah [2]: 228 yaitu selamatiga kali quru‟ yang berarti bahwa wanita dalam masa „iddahnya berdasarkan Al-Quran surat Al-Baqarah [2]: 228 masa menunggunya selama 3 bulan 10 hari atautiga kali suci. |
| URI: |
https://ecampus.uinmybatusangkar.ac.id/batusangkar/al?d=GtiiN14zpdI%2F8GjyX2mZXOYiwsKxWPbrmuFxbv%2BV5A8%2F0mNM%2Bb9ePdPcI221CuOaZzr7yn3%2BIrBe%2BQ2mx72%2BGPvThF9DOB7kv0OF1hnEjW9La6UrRtRoSKUAxikxkmOa6ZlPAszn0h6cJCTUbDE8ghfBxaMuCorjIInkuTGEfjjTrzxySiobNoGf9vFAKYk%2B http://repo.uinmybatusangkar.ac.id/xmlui/handle/123456789/31811 |
| Tanggal: | 2025-02-17 |
| File | Ukuran | Format | Lihat | Deskripsi |
|---|---|---|---|---|
| 1750147989424_1 ... MIWA ZAHROH_2030301027.pdf | 2.076Mb | application/pdf |
Lihat / |
File "Studi Penafsiran Ayat-Ayat Iddah Perspektif Wahbah AZ-Zuhaili dalam Kitab Tafsir Al-Munir" |
| 1750147990821_UNGU.jpeg | 15.49Kb | image/jpeg |
Lihat / |
Gambar "Studi Penafsiran Ayat-Ayat Iddah Perspektif Wahbah AZ-Zuhaili dalam Kitab Tafsir Al-Munir" |